Berkurban, Antara Tuntutan Ekonomi dan Religi

Berkurban, Antara Tuntutan Ekonomi dan Religi

Berkurban-antara-tuntutan-ekonomi-dan-religi-MRE

Dalam hitungan beberapa hari kedepan, umat muslim di seluruh dunia akan merayakan hari Idul Adha atau biasa disebut juga dengan Idul Qurban. Disebut demikian karena pada saat itu umat muslim yang mampu diminta untuk menyembelih hewan kurban sebagai bukti ketaatannya pada Tuhannya.

Berkurban sendiri memang bukanlah suatu kewajiban, namun memiliki nilai spiritual yang sangat tinggi bagi umat muslim yang meyakininya, sehingga tak jarang orang rela melakukan apa saja untuk bisa menunaikannya. Sederhananya saja, harga seekor kambing untuk kurban saat ini berkisar di harga mulai dari 1,5 juta rupiah per ekor. Semakin berat bobot tubuh sang kambing tentu harganya juga akan semakin mahal. Angka tersebut bagi sebagian orang pasti juga bukan merupakan angka yang mudah untuk dikumpulkan dan disisihkan, sehingga banyak yang kemudian menunda untuk menunaikan kurbannya. Jadi bagaimana caranya agar kita bisa tetap berkurban tanpa harus membuat situasi ekonomi keluarga menjadi labil?. Kecuali pemasukan kita cukup besar dan memang tiap bulannya kita memiliki uang yang masih bisa dibelanjakan sebesar harga seekor kambing, maka kita perlu menggunakan siasat agar tetap bisa berkurban.

Sebenarnya Hari raya Kurban yang datang setahun sekali memudahkan kita untuk merancang keuangan keluarga sehingga bisa berkurban. Bila tidak mungkin menyisihkan pemasukan kita dalam tempo sebulan untuk dibelikan hewan kurban, maka kita bisa menyisihkan penghasilan kita selama tiap bulannya selama setahun. Berapakah uang yang harus kita sisihkan?. sederhananya saja, jumlahkan saja harga kambing saat ini ditambah inflasi 10%, lalu dibagi 12 bulan. Itulah yang harus anda sisihkan tiap bulannya untuk bisa membeli kambing di hari Idul Qurban berikutnya. Bila masih dirasa berat, ya tambah saja waktu menabungnya menjadi 24 bulan. Karena toh berkurban bukan suatu kewajiban, tapi merupakan dorongan bagi yang mampu. Masih merasa berat juga?. Sepertinya kita perlu berkaca dari kisah pemulung dan abang tukang becak yang mampu membeli hewan kurban setelah menyisihkan penghasilan mereka untuk jangka waktu yang lama.

Bahkan untuk mengakomodasi keinginan yang kuat dari umat muslim untuk membeli hewan kurban namun lemah dari segi pembiayaannya, beberapa lembaga amil zakat yang melayani pembelian hewan kurban melakukan terobosan dengan memberikan fasilitas pembelian hewan kurban menggunakan kartu kredit. Artinya bila memang kita selama satu tahun lalu belum sempat menyisihkan penghasilan untuk tabungan membeli hewan kurban, apalagi bila harus menyisihkan penghasilan selama sebulan, maka kita punya alternatif berikutnya yaitu beli dulu baru dicicil kemudian.

Bagi yang mengimaninya, manajemen keuangan hal-hal yang berkaitan dengan spiritual memang tidak sama seperti manajemen keuangan secara harfiah. Walaupun secara harfiah harta yang kita keluarkan untuk berkurban berarti akan mengurangi kekayaan kita, namun dipandang dari kacamata spiritual justru akan membuat semakin bertambahnya kekayaan kita.

Selamat berkurban, semoga hewan yang kita kurbankan bisa menjadi kendaraan kita menuju surga-Nya kelak.

Salam,

 

Penulis     : Andy Nugroho, CFP.
Mitra Rencana Edukasi
 – Perencana Keuangan / Financial Planner
Website. www.mre.co.id, Portal. www. kemandirianfinansial.com
Fanspage. MreFinancialBusiness Advisory, Twitter. @mreindonesia
Google+. Kemandirian Finansial, Email. info@mre.co.id,
Youtube. Mitra Rencana Edukasi – MRE Indonesia, Blog Kemandirian Finansial Blog

Kontak Kami

0897-6503-291

info@mre.co.id

More from our blog

See all posts